Oleh

Dr.H.Ahmad Munir, M.Hum

( Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Madiun )

Pada Khutbah Jum’at

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ، فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ، وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

 (البقرة: ١٩٧)

Hadirin Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, bahwa pada kesempatan ini kita dapat bertemu dalam keadaan sehat wal afiat, dalam rangka melaksanakan perintah Allah, yakni melaksanakan shalat jum’at berjamaah, semoga ibadah kita diterima disisi Allah SWT.

Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahcurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. kepada keluarga, para sahabat dan para pengikutnya yang setia dari awal hingga akhir zaman. Aamiin

Jamaah jum’at Rahima kumullah

Dalam mimbar jumat ini kami ingin berwasiat kepada jamaah, termasuk diri pribadi untuk selalu meningkatkan ketaqwaan dan keimanan, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangannya, karena sebaik-baik bekal menghadap Allah SWT tidak lain kecuali keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya….sebagaimana firmannya..

. ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Hadirin Rahima Kumullah

Beberapa hari yang lalu Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama telah mengumumkan Pembatalan Keberangkatan Jamaah Haji tahun 2021. Setelah keputusan disampaikan timbul reaksi dari berbagai pihak, komentar beragam, ada yang faham dengan kebijakan tersebut, tapi juga ada yang menanggapi minus, bahkan ada yang menganggap Pemerintah terburu-buru dengan keputusan tersebut….oleh karena itulah pada kesempatan yang mulia ini kami ingin meluruskan sebagaimana Keputusan Pemerintah terkait dengan Pembatalan Keberangkatan jamaah haji th 2021 yang telah resmi diumumkan pada tanggal 3 Juni 2021 yg lalu.

Jamaah Jumat yg dirahmati Allah

Pembatalan keberangkatan Haji 2021 menjadi perbincangan hangat kaum muslimin di Tanah Air. Jika menilik kembali sejarah Islam dan perjalanan Nabi Muhammad, SAW. Beliaupun pernah menunda ibadah Haji selama 4 tahun berturut-turut.

Bagi Pemerintah Indonesia sendiri, penundaan Haji tahun ini adalah keputusan yang tepat mengingat kondisi pandemi yang belum terkendali.

Lalu, bagaimana sikap kita menyikapi penundaan ibadah Haji ini?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah menunda ibadah Haji pada masa beliau.

Peristiwa ibadah haji di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah sebuah momen yang menyimpan banyak kejadian, sekaligus pelajaran berharga. Nabi menunda ibadah haji hingga empat tahun lamanya.

Sebagian orang ada yang menduga, bahwa penundaan itu karena dihalangi pemuka Musyrikin Makkah. Namun kejadian yang sesungguhnya tidak demikian.

Jamaah Juma’at Rahima Kumullah

Memang di tahun keenam Hijriyah itu, Pada Masa Nabi,  1.400 orang rombongan bersama Rasulullah SAW dari Madinah gagal masuk Makkah. Gara-gara tidak dapat izin dari otoritas Makkah. Nabi terpaksa kembali lagi ke Madinah pada tahun yang sama. Namun disepakati bahwa untuk tahun depan (tahun ketujuh) pihak otoritas Makkah mengizinkan Nabi masuk Mekkah bersama rombongan. Peristiwa itu disebut dengan Umrotul Qadha’. Mengqadha’ umrah tahun lalu yang gagal.

Yang menjadi pertanyaan di sini adalah, kenapa ada kesempatan masuk Makkah, tetapi Beliau tidak sekalian saja mengerjakan ibadah haji? Padahal perintah berhaji sudah turun di tahun keenam. Ternyata meski berkesempatan ke Makkah, tapi Beliau malah tidak berhaji.

Anehnya lagi, di tahun berikutnya yaitu tahun kedelapan hijiriyah, Nabi berkesempatan masuk Makkah lagi. Tetapi konteksnya kali ini adalah Peristiwa Fathu Makkah.

Tapi lagi-lagi Beliau Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak memanfaatkannya untuk haji. Beliau hanya umrah saja. Di tahun berikutnya lagi yaitu tahun kesembilan hijriah, Nabi sama sekali tidak ada agenda ke Mekkah. Padahal orang-orang dari mana-mana pada mengerjakan haji. Bahkan Sahabat Abu Bakar pun berangkat haji.

Tapi Nabi malah tidak berangkat. Akhirnya barulah di tahun berikutnya yaitu tahun kesepuluh hijriah, Nabi benar-benar melaksanakan ibadah Haji. Persitiwa inilah dikenal dengan sebutan Haji Wada’ atau haji perpisahan. Sebab, selesai pelaksanaan haji, dua bulan kemudian Beliau menghadap Allah Ta’ala.

Hadirin Jamaah Jumat Rahima Kumullah

Para ulama ketika menganalisa kasus haji Nabi,  bersilang pendapat. Al-Imam Asy-Syafi’i menyimpulkan bahwa hukum kewajiban haji itu unik, yaitu Al-wujubu Lit-tarakhi atau kewajiban yang boleh ditunda pelaksanaannya.

Rasulullah SAW. menunda ibadah haji selama empat tahun berturut-turut. Sejak turun perintahnya di tahun keenam dan baru dikerjakan di tahun kesepuluh hijriah.

Hadirin Jamaah Jumat Rahima kumullah

Adapun alasan pemerintah membatalkan pemberangkatan jamaah haji th 2021 adalah sbb :

Pertama, mengutamakan keselamatan jiwa jamaah haji di tengah pandemi yang masih melanda dunia, terlebih adanya varian baru COVID-19. Dalam infografis tersebut menunjukkan tabel data kasus harian dari 11 negara yang masih ditangguhkan izin masuknya ke Arab Saudi.

Terlihat tiga negara yang memiliki jumlah harian terbesar per 1 Juni 2021 yaitu India sebesar 132.788 kasus, Iran 10.687 kasus, dan Turki 7.112 kasus. Sementara Indonesia memiliki jumlah harian sebesar 4.824 kasus/hari.

Lalu jika dilihat kasus harian di kawasan Asia Tenggara, Malaysia memegang kasus tertinggi sebanyak 7.105 per hari. Kemudian disusul oleh Filipina 5.166 kasus, dan Thailand 2.230 kasus

Kedua, agama Islam mengajarkan bahwa menjaga jiwa (khifzhun-nafs) merupakan kewajiban yang harus diutamakan.

Ketiga, berdasarkan Undang-Undang No 8 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah memberikan amanah kepada pemerintah, untuk melaksanakan tugas perlindungan. Karena faktor kesehatan, keselamatan, dan keamanan jamaah menjadi faktor utama.

Keempat, Pemerintah Arab Saudi hingga saat ini belum memberikan kepastian kuota sampai hari diumumkannya pembatalan keberangkatan jamaah (22 Syawal 1442 H/3 Juni 2021 M).

Pemerintah Arab Saudi juga belum mengundang negara pengirim jamaah, termasuk Indonesia untuk membahas dan menandatangani Nota Kesepahaman tentang Persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1442 H/2021 M.

“Sehingga, persiapan yang sudah dilakukan sejak Desember 2020, belum dapat kepastian kuota haji dari Arab Saudi Padahal, dengan kuota 5% dari kuota normal saja, waktu penyiapan yang dibutuhkan tidak kurang dari 45 hari.

Pandemi mengharuskan penerapan protokol kesehatan secara ketat, termasuk pembatasan dalam pelaksanaan ibadah,”

Kelima, berkaca pada penyelenggaraan umrah awal tahun ini, di mana banyaknya pembatasan antara lain: Larangan shalat di Hijir Ismail dan berdoa di sekitar Multazam, pembatasan shalat jamaah, baik di Masjidil Haram & Masjid Nabawi, pembatasan masa tinggal di Madinah hanya tiga hari, sehingga jamaah tidak bisa menjalani ibadah Arbain.

Jamaah Jum’at Rahima Kumullah

Namun tidak perlu khawatir, Pemerintah Indonesia akan memberangkatkan calon jamaah haji yang batal berangkat di tahun ini,  pada ibadah haji 1443 H/2022 M. “Jamaah haji baik reguler atau pun khusus yang sudah melunasi biaya perjalanan haji tahun 1442 H/2021 M akan menjadi jamaah haji pada Penyelengaraan ibadah haji di tahun 1443 H/2022 M,”

Semoga ini menjadi pelajaran berharga, dan kita berdoa, agar umat Islam dapat bersabar bahwa musibah Pandemi Covid-19 segera berlalu, dan semoga penyelenggaraan haji berikutnya dapat terselenggara dengan aman dan lancar. Amiin ya rabbal alamiin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah di sampaikan :

Pada Jum’at Legi, 11 Juni 2021

Di Masjid Agung “Baitul Hikam” Kota Madiun

Leave a Comment