Kota Madiun (Bimas Islam) – Kementerian Agama bertugas untuk mengawal kerukunan umat beragama, seperti menjadikan tema diseminasi moderasi beragama sebagai kontra radikalisme dalam rancangan utamanya. Dan dengan melihat perkembangan produksi wacana ulama yang moderat di media sosial menjadikan Aris Hidayat, peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang melaksanakan kegiatan penelitian dalam rangka menghimpun data/informasi yang terkait dengan studi kelayakan atas penelitian dimaksud.

Penelitian yang dilakukan Aris diakhiri dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Meeting Room Lombok Idjo pada Sabtu (19/6) dihadiri 10 peserta dari unsur penyuluh fungsional, penyuluh non PNS, NU, Muhamadiyah, TV channel Baznas dan Kemenag Kota Madiun.

Dengan mengambil tema “Produksi Wacana Keagamaan Ulama di Media Sosial di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta” penelitian dilaksanakan Aris sejak bulan Mei hingga Juni 2021. Dengan obyek penelitian Hj. Kharisma Yogi Noviana seorang mubaligh, mantan siswi MTsN Kota Madiun dan MAN 2 Kota Madiun yang dulunya juga terkenal sebagai mubaligh cilik.

Mengingat media sosial saat ini menjadi sarana dakwah yang intensitasnya semakin meningkat, di satu sisi juga perlu disadari bahwa sosial media bisa dipakai secara positif atau negatif itu tergantung pada pemiliknya.

Terkait tehnis berdakwah dalam bermedia sosial, baik melalui Youtube, facebook, Instagram dan twitter seharusnya menjadi kegelisahan ahli agama yang memiliki wawasan keagamaan yang moderat dan seimbang. Adanya penyebaran ide-ide moderasi beragama dengan bahasa yang digunakan terlalu ilmiah dan akademis, sedangkan masyarakat di media sosial adalah masyarakat awam.

Menyikapi hal tersebut, gagasan mengenai moderasi beragama tersosialisasi dengan sukses di media sosial, hendaknya para ulama, tokoh agama dan cendekiawan bisa merendahkan bahasanya dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan masyarakat awam. (da)

Leave a Comment