
Kota Madiun – Dalam rangka memperkuat peran majelis taklim sebagai garda terdepan pembinaan umat, Kantor Kementerian Agama Kota Madiun menggelar kegiatan Penguatan Kelompok Kerja (Pokja) Majelis Taklim Tahun 2025 bertempat di Aula Al-Ikhlas II, Sabtu (18/10).
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur ormas dan penggerak majelis taklim se-Kota Madiun. Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Madiun Zainut Tamam, Kasi Bimas Islam Moch. Arif Fauzi, serta Kasi PAIS Nanik Nurhayati yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut.
Dalam laporannya, Moch. Arif Fauzi menyampaikan latar belakang terbentuknya Pokja Majelis Taklim serta pentingnya kegiatan penguatan ini. “Majelis taklim merupakan wadah strategis pembinaan keagamaan masyarakat yang diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 29 Tahun 2019, dan kegiatan ini didukung melalui DIPA Kemenag,” ujarnya.

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Kakankemenag Kota Madiun, Zainut Tamam, yang juga berkesempatan memberikan materi pertama. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya sinergi dan kesepahaman dalam setiap program keagamaan. “Program tanpa kesepakatan itu akan berjalan seadanya. Majelis taklim ini berada di garis depan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, menjaga aqidah, akhlak, dan adab umat,” tutur Zainut.
Ia juga menekankan bahwa Kota Madiun merupakan salah satu kota dengan tingkat moderasi beragama yang baik. “Kota Madiun ini kota yang moderat. Tidak ada kelompok agama yang merasa paling benar atau superior,” ujarnya.
Dalam materi yang disampaikannya, Zainut Tamam menegaskan pentingnya dakwah yang menyejukkan dan kontekstual. “Dakwah harus membawa kesejukan karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Masyarakat kita plural, maka dakwahnya pun harus disesuaikan, jangan disamaratakan. Tema dakwah moderat atau wasathiyah harus menjadi cara pandang kita bersama,” jelasnya.
Lebih lanjut ia sampaikan, “Dalam Islam terdapat empat madzhab besar yang menjadi pedoman umat, yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Karena itu, penting bagi kita untuk berpegang pada madzhab agar tidak tercampur aduk dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama,” imbuhnya.
Sebagai narasumber kedua, Kasi PAIS, Nanik Nurhayati menyoroti pentingnya pembinaan majelis taklim secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi keagamaan tetapi juga kelembagaan dan sosial ekonomi. “Kita tidak hanya melakukan transfer ilmu, tapi juga transfer pengetahuan. Pembinaan majelis taklim mencakup lima aspek, yaitu keagamaan, kelembagaan, kaderisasi, sosial-ekonomi, serta kerja sama dan jaringan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa pembinaan keagamaan mencakup kajian dan peringatan hari besar Islam yang menyasar jamaah; pembinaan kelembagaan meliputi pelatihan manajemen, administrasi, dan keuangan bagi pengurus; pembinaan kaderisasi berupa pelatihan dai muda untuk anggota aktif; pembinaan sosial dan ekonomi melalui pelatihan keterampilan bagi masyarakat sekitar; serta penguatan jejaring dengan pemerintah maupun lembaga lain bagi majelis taklim.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Pokja Majelis Taklim Kota Madiun semakin solid dan mampu menjadi motor penggerak dakwah yang moderat, inklusif, dan menyejukkan di tengah masyarakat yang beragam. (Humas)